Informasi Kesehatan

Kardiomiopati Peripartum, Gangguan Jantung Menjelang atau Setelah Persalinan

kehamilan.jpg

Inilah Ragam Gejala Batu Ginjal yang Patut Dikenali

Gejala batu ginjal bisa beragam. Gejala-gejala ini biasanya…

Apa Saja Ciri Ciri Asam Lambung Naik?

Asam lambung naik atau yang dikenal dengan gastroesophageal reflux…

Kanker Serviks

Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada leher…

Kardiomiopati peripartum adalah gangguan jantung yang terjadi pada akhir masa kehamilan, menjelang persalinan, atau beberapa bulan setelah persalinan. Kondisi ini umumnya jarang terjadi, namun bila tidak segera ditangani, kardiomiopati peripartum bisa menyebabkan komplikasi yang berbahaya.

Kardiomiopati peripartum adalah jenis kardiomiopati yang terjadi pada wanita yang sedang hamil tua atau ibu yang baru melahirkan. Penyakit ini bisa muncul saat mendekati waktu persalinan atau beberapa hari, minggu, dan bahkan beberapa bulan (setidaknya 4–5 bulan) setelah melahirkan. Jika terjadi setelah 6 bulan pascapersalinan, maka kondisi ini disebut kardiomiopati postpartum.

Kardiomiopati peripartum ditandai dengan melemahnya otot-otot jantung, sehingga membuat bilik (ventrikel) jantung di sebelah kiri melemah. Bilik jantung kiri merupakan bagian jantung yang berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Akibat dari kondisi ini, jantung tidak dapat memompa dan mengalirkan darah dengan baik ke seluruh tubuh. Pada kondisi yang parah, bisa terjadi gagal jantung.

Tanda dan Gejala Kardiomiopati Peripartum

Kardiomiopati peripartum kerap muncul secara tiba-tiba dan sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Wanita yang mengalami kardiomiopati peripartum biasanya akan mengalami gejala yang mirip dengan gejala gagal jantung, yaitu:

  • Mudah lelah dan letih
  • Jantung berdebar-debar
  • Sesak napas saat berbaring atau beraktivitas
  • Sering buang air kecil pada malam hari
  • Pusing
  • Nyeri dada
  • Pembengkakan pada tungkai dan pergelangan kaki
  • Batuk-batuk

Pada kasus yang ringan, kardiomiopati peripartum bisa saja tidak menunjukkan gejala yang khas. Sebaliknya, pada kasus yang lebih berat, gejala seperti sesak napas, bengkak-bengkak, dan nyeri dada bisa semakin parah dan berlangsung lama setelah melahirkan.

Bila Anda sedang hamil atau baru saja melahirkan dan merasakan beberapa gejala di atas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Pasalnya, jika terlambat ditangani, kondisi kardiomiopati saat hamil tua atau pascamelahirkan dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:

  • Detak jantung tidak teratur (aritmia)
  • Kelainan katup jantung
  • Gagal jantung
  • Kematian

Penyebab dan Faktor Risiko Kardiomiopati Peripartum

Penyebab terjadinya kardiomiopati peripartum belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, kondisi ini diketahui berkaitan dengan kinerja otot jantung yang bertambah berat selama hamil.

Selama masa kehamilan, otot jantung akan memompa darah hingga 50 persen lebih banyak dibandingkan saat tidak hamil. Hal ini dikarenakan keberadaan janin yang harus mendapatkan pasokan oksigen dan nutrisi dari ibu hamil.

Selain karena faktor tersebut, ada beberapa faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kardiomiopati peripartum, antara lain:

  • Berat badan berlebih atau obesitas
  • Kehamilan kembar
  • Penyakit tertentu, misalnya hipertensi, preeklamsia, diabetes, dan gangguan pada jantung seperti miokarditis, kardiomiopati atau lemah jantung, serta penyakit jantung koroner
  • Malnutrisi atau kurang gizi
  • Kebiasaan merokok atau mengonsumsi minuman beralkohol saat hamil
  • Usia di atas 30 tahun
  • Efek samping obat-obatan tertentu, seperti obat tokolitik untuk mengurangi kontraksi rahim dan narkotika, misalnya (kokain)

Diagnosis dan Penanganan Kardiomiopati Peripartum

Kardiomiopati peripartum penting untuk dideteksi sejak dini oleh dokter agar bisa segera ditangani. Untuk mendiagnosis kondisi ini, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan kandungan, serta pemeriksaan penunjang seperti foto Rontgen dada, CT scan, ekokardiografi, elektrokardiografi (EKG), dan tes darah.

Bila Anda didiagnosis mengalami kardiomiopati peripartum, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk menjalani rawat inap di rumah sakit. Untuk menangani kardiomiopati peripartum, dokter akan memberikan obat-obatan berikut:

  • Obat golongan ACE-inihibitor dan penghambat beta untuk membantu menstabilkan tekanan darah dan meringankan kerja jantung
  • Obat digitalis untuk menguatkan fungsi pompa jantung
  • Obat antikoagulan atau obat pengencer darah untuk mencegah terbentuknya gumpalan darah yang dapat memperparah kardiomiopati
  • Obat diuretik untuk mengurangi penumpukan cairan dari dalam tubuh

Dokter akan menentukan jenis pengobatan yang tepat sesuai kondisi Anda dan janin di dalam rahim atau bayi yang baru dilahirkan.

Selain dengan memberikan obat-obatan, dokter juga akan menyarankan Anda untuk menjalani diet rendah garam, membatasi asupan cairan, menghindari asap rokok, dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol.

Setelah kondisi Anda membaik dan jantung mengalami perbaikan, dokter akan memperbolehkan Anda pulang dari rumah sakit, dengan tetap memberikan obat-obatan dan menyarankan Anda untuk kembali kontrol setelah obat habis.

Untuk menangani kardiomiopati peripartum yang parah atau tidak berhasil diatasi dengan obat-obatan, dokter dapat melakukan beberapa langkah penanganan lain, seperti memasang alat bantu napas hingga operasi, misalnya transplantasi jantung.

Upaya Pencegahan Kardiomiopati Peripartum

Wanita yang pernah mengalami kardiomiopati peripartum memiliki risiko untuk mengalaminya lagi pada kehamilan berikutnya. Jika penyakit ini terjadi untuk kedua kalinya, kardiomiopati peripartum yang dialami mungkin saja semakin parah.

Selain itu, untuk mencegah terjadinya kardiomiopati peripartum, dokter juga umumnya akan menyarankan penderita untuk menjalani pola hidup sehat, seperti:

  • Memantau pertambahan berat badan saat hamil dan menjaganya agar tetap ideal
  • Melakukan konsultasi ke dokter kandungan selama hamil
  • Menjalani pola makan sehat selama hamil dan membatasi asupan tinggi garam
  • Menghentikan kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan menggunakan obat-obatan tertentu
  • Berolahraga ringan secara rutin, misalnya mengikuti kelas yoga, senam hamil, serta kegiatan lain, seperti relaksasi dan meditasi untuk menghindari stres
  • Beristirahat yang cukup dan tidak melakukan aktivitas fisik yang berat

Agar kardiomiopati peripartum bisa terdeteksi sejak dini, penting bagi Anda untuk rutin memeriksakan kandungan ke dokter, terlebih jika Anda memiliki faktor risiko untuk mengalami kondisi tersebut, seperti riwayat gangguan jantung, preeklampsia, atau hipertensi.

 

Sumber: Alodokter.com

 

Konsultasikan masalah kesehatan anda di Klinik Pelita Sehat; klinik BPJS Bogor dan klinik terfavorit keluarga. Klinik Pelita Sehat memiliki 5 cabang yang tersebar di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Klinik Pelita Sehat cabang Pomad dan Klinik Pelita Sehat cabang Bangbarung sudah memperoleh akreditasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan nilai akreditasi Paripurna.

TEMUKAN