Informasi Kesehatan

Ngeri, Vape Bisa Tingkatkan Bahaya Infeksi Virus Corona

vaping-1.jpg

Ramai Dibahas dan Disorot, Kenapa Stunting Jadi Isu Prioritas?

Stunting telah lama menjadi isu prioritas nasional, setelah…

Pengaruh Kuman Gigi Terhadap Kesehatan

Di dalam mulut manusia terdapat beragam jenis kuman gigi, tapi…

5 Kondisi yang Bisa Dialami Akibat Kurang Tidur

Stres dan pola hidup tidak sehat sering kali…

Anda salah satu orang yang meyakini vape lebih aman dari rokok? Buang jauh-jauh pikiran tersebut pada masa pandemi virus corona ini. Pasalnya, kebiasaan vaping justru meningkatkan risiko bahaya COVID-19. Kok, bisa?

Sebelumnya, Anda mungkin sudah memahami bahwa perokok sangat rentan terkena virus corona. Menurut dr. Devia Irine Putri, hubungan merokok dengan coronavirus sebenarnya tentang masalah daya tahan tubuh. Orang yang merokok jelas terpapar radikal bebas.

Nah, sekarang sudah masuk ke ranah vape. Kalau Anda masih berpikir vape lebih aman dibanding rokok, Anda ternyata salah besar!

Pencinta vape harus memikirkan dirinya dan orang lain dengan fakta bahwa mereka juga sangat rentan dengan risiko COVID-19.

Banyak Pasien Virus Corona Punya Kebiasaan Vaping

Bisa jadi, ini adalah saat yang tepat bagi Anda untuk berhenti mengisap vape. Ini karena dampak dari kebiasaan itu sangat berbahaya bila dikaitkan dengan virus corona. Spekulasi tentang hubungan antara vaping dengan COVID-19 telah berkembang dalam beberapa minggu terakhir, terutama di Amerika Serikat. Laporan-laporan berita mencatat bahwa beberapa pasien COVID-19 usia muda yang dirawat di rumah sakit ternyata punya kebiasaan memakai vapeNational Institute on Drug Abuse menuliskan, orang-orang yang menggunakan narkoba – termasuk vaping – bisa sangat berisiko terhadap COVID-19.

Apakah ada hubungan aktual antara vaping dengan coronavirus? Ilmu yang mempelajari vaping secara umum masih berkembang. Sementara, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa vaping dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan masalah kesehatan lainnya. Beberapa ahli kesehatan percaya, orang yang sering nge-vape sangat mungkin terkena COVID-19.

Karena para ilmuwan tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa vaping mengarah ke penyakit paru-paru atau kondisi kronis lainnya, sulit juga untuk mengatakan apakah hal itu membuat orang berisiko lebih tinggi terkait dengan COVID-19.

Meski begitu, Yasmin Thanavala, seorang ahli imunologi di Roswell Park Comprehensive Cancer Center di Buffalo, New York, mengatakan beberapa penelitian pada hewan menunjukkan vaping dapat menghambat tubuh dari penyembuhan infeksi bakteri dan virus.

Mengenai pendapat bahwa vape membuat seseorang berisiko tinggi terkait COVID-19, Thanavala menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada bukti konklusif terkait hal tersebut.

 

Vape Buat Risiko Tertular Virus Corona Makin Tinggi

Masalah yang paling jelas dengan vaping adalah kerusakan yang ditimbulkannya pada paru-paru. Ketika Anda punya kebiasaan nge-vape, Anda mengambil bahan kimia keras yang bisa merusak sel-sel dalam sistem pernapasan, yang mana penting untuk mengatur sistem kekebalan tubuh.

"Seperti kita tahu, sel-sel itu merupakan garis pertahanan pertama tubuh untuk merobohkan penyakit pernapasan seperti COVID-19," ujar dr. Alexa Mieses, seorang asisten profesor pengobatan keluarga untuk Fakultas Kedokteran University of North Carolina.

"Sistem kekebalan tubuh Anda disibukkan dengan urusan kerusakan yang ditimbulkan oleh uap pada paru-paru. Vape juga membuat tubuh Anda jauh lebih sulit untuk melawan patogen seperti coronavirus," katanya.

Hal yang sama pun disampaikan oleh dr. Devia. "Baik rokok maupun vape, sama-sama meningkatkan risiko infeksi corona. Karena, cairan yang ada di dalam vape juga bisa menyebabkan peradangan sel tubuh dan merusak sel-sel, terutama di paru-paru," jelasnya.

Sementara itu, menurut Robert Jackler (ketua departemen otolaringologi di Stanford Medicine), vaping menekan respons kekebalan paru-paru. Akhirnya, vape meningkatkan keparahan dan durasi infeksi pernapasan lainnya, seperti bronkitis, influenza, dan pneumonia.

 

Asap Vape Bisa Jadi Sarana Penularan Virus Corona

Ketika seseorang sedang memakai vape, ia akan menarik napas dari alatnya. Asapnya kemudian bercampur dengan sekresi di paru-paru, tenggorokan, dan hidung, lalu meniupnya.

"Terdapat sesuatu di udara – ada butir cairan (droplet) dari bahan vape yang terkontaminasi oleh sekresi dari dalam paru-paru yang mungkin banyak mengandung virus," kata Jackler.

Coronavirus sebagian besar menyebar melalui droplet yang bisa keluar ketika orang berbicara, batuk, atau bersin. Droplet tersebut cukup besar, sehingga gravitasi mampu menarik butir cairan ke bawah dan akhirnya tidak mampu bertahan lama di udara.

Sementara, aerosol yang dilepaskan dari asap vape sangat kecil. Jadi, kandungan yang ada dapat bertahan di udara.

"Jika seseorang baru saja menggunakan vape di sebuah ruangan kecil, terutama dengan salah satu perangkat bertenaga tinggi, maka sekresi dari paru-parunya dapat tertahan di udara selama beberapa menit atau bahkan beberapa jam setelah ia vaping," tutur Jackler.

Bila mereka yang sering nge-vape mengidap COVID-19 dan mengeluarkan asap yang mengandung butir cairan kecil terkontaminasi ke udara, orang lain bisa saja tertular virus kalau langsung memasuki ruangan tersebut. Prosesnya mirip dengan bagaimana petugas kesehatan dapat terkena virus melalui udara akibat prosedur medis yang harus mereka lakukan pada pasien.

 

Apakah Paru-Paru Pasien Virus Corona Alami Kerusakan Permanen?

Bicara soal COVID-19 yang menyerang paru-paru, kita mungkin jadi bertanya-tanya, apakah paru-paru pasien virus corona bisa kembali normal? Kita tahu bahwa paru-paru adalah organ yang terserang virus mematikan itu.

Menurut dr. Devia, paru-paru pasien virus corona bisa saja mengalami kerusakan permanen. Ini disebabkan oleh rusaknya sel paru yang meninggalkan jaringan parut.

"Bisa rusak permanen, karena biasanya kalau sudah sampai komplikasi gagal napas akan ada kemungkinan bisa rusak sel parunya. Itu jadi meninggalkan jaringan parut atau fibrosis. Nah, ini mengganggu aliran darah dalam membawa oksigen," ungkapnya.

Fakta-fakta di atas kiranya bisa membuat orang yang doyan nge-vape untuk menghentikan kebiasaannya. Vape dapat meningkatkan risiko COVID-19. Kalau sudah terkena infeksi ini, paru-paru bisa saja mengalami kerusakan permanen.

 

Sumber: Klikdokter.com

 

Konsultasikan masalah kesehatan anda di Klinik Pelita Sehat; klinik BPJS Bogor dan klinik terfavorit keluarga. Klinik Pelita Sehat memiliki 5 cabang yang tersebar di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Klinik Pelita Sehat cabang Pomad dan Klinik Pelita Sehat cabang Bangbarung sudah memperoleh akreditasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan nilai akreditasi Paripurna.