“OCD ekstrem terjadi ketika kecemasan menghambat pengidapnya melakukan aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut dapat diatasi dengan obat-obatan, terapi perilaku, dan pengelolaan kecemasan.”
Pengidap gangguan obsesif kompulsif (OCD) memiliki pola pikir dan obsesi yang mengarahkannya untuk melakukan sesuatu secara berulang (kompulsi). Obsesi dan kompulsi tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Gangguan kesehatan mental ini bisa bersifat kronis bahkan ekstrem.
Apa itu OCD ekstrem? Ketika OCD menjadi ekstrem, kondisi tersebut akan mengganggu hubungan, tanggung jawab, dan kualitas hidup dan dapat menurun secara signifikan. Bahkan bisa menghambat pengidapnya untuk melakukan aktivitas normal sehari-hari. OCD bukanlah kesalahan pengidapnya dan tidak harus dihadapi sendiri. Kondisi tersebut dapat diobati, meski terasa berat dan parah.
Menurut penelitian, OCD ekstrem perlu menjalani pengobatan jangka panjang untuk meminimalisasi kekambuhan. Pengobatan harus dilakukan secara intensif dan sedari dini, supaya gejala OCD tidak kambuh meski pengobatan dihentikan.
Ada beberapa jenis penanganan OCD yang dapat dilakukan. Penanganan yang paling umum yaitu:
Pengidap OCD kemungkinan mendapatkan obat resep untuk menangani gejala OCD. Obat yang digunakan menargetkan serotonin, beberapa juga disarankan untuk mengonsumsi neurotransmitter norepinefrin.
Dalam beberapa kasus, jika seseorang tidak menanggapi obat yang ditargetkan, dapat menggunakan kombinasi beberapa obat. Misalnya, antidepresan SSRI dapat dikombinasikan dengan obat seperti risperidone (yang digunakan untuk mengobati gejala psikotik, seperti halusinasi dan delusi).
Jenis penanganan OCD ekstrem berikutnya yaitu dengan psikoterapi atau terapi perilaku kognitif (CBT). Ini adalah psikoterapi yang paling umum digunakan untuk menangani OCD. Cara kerja CBT yaitu dengan:
CBT untuk OCD ekstrem melibatkan dua komponen, yaitu terapi perilaku dan terapi kognitif.
Terapi perilaku dilakukan dengan paparan dan pencegahan ritual (ERP) yang berupa:
Sementara itu, terapi kognitif melibatkan:
Gejala kecemasan pada pengidap OCD perlu dikelola dengan program berbasis kesadaran atau yang dikenal sebagai terapi penerimaan dan komitmen (ACT). Bisa dibilang program ini masih baru sebagai penanganan OCD.
Meskipun penelitian ACT belum sebanyak CBT, tapi dianggap menjanjikan sebagai pengobatan OCD. Apalagi jika penanganannya dikombinasikan dengan CBT. Pengidap OCD yang tidak menanggapi penanganan dengan metode ERP, dapat merasakan manfaat dari pengelolaan kecemasan.
Pengelolaan kecemasan bertujuan membantu pengidap OCD agar dapat menanggapi kecemasan sebagai hal yang netral. Pengidap juga mampu membiarkan kecemasan datang dan pergi, tanpa perlu merespons, atau tidak merasa terganggu.
Itulah beberapa jenis penanganan OCD. Kondisi kesehatan mental ini dapat mempersulit pengidap dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Terutama jika gejalanya ekstrem. Jika kamu mengidap OCD ekstrem, mungkin akan merasa takut untuk mengelola gejala.
Sumber: halodoc. com
Konsultasikan masalah kesehatan anda di Klinik Pelita Sehat; klinik BPJS Bogor dan klinik terfavorit keluarga. Klinik Pelita Sehat memiliki 5 cabang yang tersebar di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Klinik Pelita Sehat cabang Pomad dan Klinik Pelita Sehat cabang Bangbarung sudah memperoleh akreditasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan nilai akreditasi Paripurna.